Selasa, 07 Agustus 2018

Trip: Soreang - Pangalengan for Coffee

Hari Minggu kemarin (5/8), saya dan beberapa teman punya rencana buat nyicip kopi yang dikembangin di daerah Bandung, tepatnya di Pangalengan. Kopi yang dikembangin di Pangalengan disebut kopi Malabar, dan tujuan kami buat perjalanan kemarin adalah Malabar Mountain Coffee. Start dari Cikutra sekitar jam 6, dan saya menjeput teman (kang Jaya) di Surapati, dan lanjut perjalanan ke Soreang buat jemput kang Oppi dan keluarga. Perjalanan Bandung - Soreang sekitat 30 menit (yes, saya nunggu kang Jaya di Surapati sekitar 15-20 menit 😅 ) dan nyampe Soreang sekitar jam 7.

Dari rumah kang Oppi yang di Soreang (Katapang lebih tepatnya), kami mulai jalan sekitar jam 07.30, dengan pemberhentian pertama adalah surabi di sekitar daerah Gading, Soreang. Di sini saya pesen surabi telor + oncom dan surabi manis buat sarapan sebelum jalan ke Pangalengan. Surabi di sini masih dimasak dengan cara tradisional, yaitu dengan menggunakan kayu bakar alih-alih menggunakan kompor. Sekitar 15 menit nunggu, surabi yang dipesan siap disantap.


Surabi telor + oncom terlihat lebih besar dari surabi pada umumnya, mungkin karena ada bahan telor yang bikin surabi ini mengembang. Rasa surabi di sini buat saya enak, apalagi surabi telor + oncom ini walaupun cuma 1 tapi cukup buat sarapan. Setelah sarapan surabi, sekitar 08.30 kami lanjut perjalanan ke tujuan utama, yaitu ke Pangalengan. 

Berbekal arahan dari Google Maps, kami menuju Malabar Coffee Mountain dan patokannya adalah Hotel Damanaka. Ketika sudah belok di Hotel Damanaka dan menelusuri jalan, ternyata tempat yang dimaksud masih jauh dari jalan utama. Sampai di satu titik pertigaan, Google Maps mengarahkan lurus sedangkan di pertigaan tersebut ada plang dengan tulisan "Kopi Malabar" belok kiri, ya jadi kami memutuskan belok kiri sampai ujung jalan, kami menemukan cafe Kopi Malabar.


Tempat ini buat saya merupakan tempat ngopi yang asik, karena pengunjung bisa memilih berbagai cara penyajian kopi dan bisa ngopi dengan suguhan pemandangan hamparan kebun teh dan pegunungan. Di tempat ini juga pengunjung bisa membeli biji kopi ataupun kopi bubuk, baik itu kopi arabica ataupun kopi luwak. Untuk kopi yang dijual di Kopi Malabar Indonesia, kalau saya tidak salah dijual dengan harga mulai sekitar Rp 50.000 per 100 gram, tergantung dari jenis (arabica atau luwak) dan juga prosesnya. Di sini juga kita bisa lihat luwak yang dibudidayakan. Ya di Kopi Malabar Indonesia, mereka juga mengembangkan kopi luwak sebagai produk unggulan mereka. 


Wait, kopi luwak, saya di sini merasa kayanya kami salah tempat 😅. Karena sudah tanggung sampai di sini, kami memesan kopi dengan selera masing-masing, saya memesan kopi V60, dan Kang Oppi memesan kopi tubruk. Sedangkan kang Jaya memesan latte, dan teh Olet dan ayahnya kang Oppi memesan cappucino. 


Kopi yang saya pesan, sepertinya diproses dengan cara fully wash dan di sangrai medium, sehingga kopi yang dihasilkan tidak pahit dan cenderung asam, tapi meskipun asam rasanya ga terlalu tajam ke lambung. Sedangkan kopi tubruk yang dipesan kang Oppi punya rasa yang lebih manis, tapi saat dingin rasanya lebih asam.

Sambil menikmati kopi, saya coba kontak kang Irwan, owner Malabar Mountain Coffee, yang mengisi workshop seminggu sebelumnya. Dari sana saya tau kalau ternyata Kopi Malabar Indonesia dan Malabar Mountain Coffee itu tempat yang berbeda, dan arahan yang ditunjukan Google Maps itu sebenarnya akurat, dan tidak jauh dari pertigaan yang ada plang "Kopi Malabar". Sekitar jam 12 kami akhirnya memutuskan buat mampir ke Malabar Mountain Coffee karena sudah tanggung ada di Pangalengan, dan toh jaraknya juga ga jauh dari Kopi Malabar Indonesia.

Sumber: hitput.com
Lokasi Malabar Mountain Coffee yang kami kunjungi ini sebenarnya kantor dan tempat proses/jemur Malabar Mountain Coffee. Di sini kami bisa lihat kopi yang sedang dijemur untuk proses natural yang sudah dijemur selama 20 hari. Tempat ini juga ada semacam cafe untuk pengunjung yang ingin mencoba kopi sebelum beli biji kopi untuk dibawa pulang. Saya memesan kopi natural untuk teman ngobrol dengan kang Irwan. Obrolan kami ya tidak jauh seputar bagaimana menanam kopi, proses penjemuran, sangrai sampai penyeduhan kopi itu bisa menghasilkan rasa yang berbeda. Obrolan kami pun sampai tentang bagaimana untuk memulai usaha terkait kopi, dalam hal kedai kopi. Sekitar jam 2, obrolan kami sudahi dan bersiap menuju Soreang.


Sebagai oleh-oleh, saya dan kang Oppi membeli kopi dengan proses natural sebanyak 1 kg, yang dibagi 2. Oia, di sini juga kita bisa meminta biji kopi yang dibeli untuk digiling, dan akan ditanya biasanya nyeduh kopinya seperti apa supaya si gilingan kopinya disesuaikan dengan cara seduh yang biasa kita lakukan. Nah karena saya belum punya grinder, saya minta biji kopi yang saya beli digiling untuk seduh V60 atau kopi tubruk, sedangkan kang Oppi membeli yang masih dalam bentuk biji. Kopi natural di sini dijual dengan harga Rp 290.000 per kg. Jika membeli 1 kg terasa terlalu banyak, bisa juga membeli dengan ukuran 500 gram seharga Rp 160.000 dan 250 gram seharga Rp 90.000 (kalau tidak salah, karena saya kemaren fokus di harga 500 gram dan 1 kg 😅).

Buat yang suka kopi, rasanya kedua tempat tersebut, baik Malabar Coffee Mountain ataupun Kopi Malabar Indonesia merupakan tempat yang harus dikunjungi kalau lagi berwisata ke Bandung Selatan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[Old Post] Poster Anti Tawuran

Lagi iseng beres-beres folder di laptop, nemu file poster anti tawuran yang saya buat tahun 2012, waktu masih kuliah. Waktu itu kuliah semes...